24 Januari 2009
Kita takkan berpisah
Seminar Nasional "Inovasi Pengajaran Bahasa Jawa"
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan mengadakan Seminar Nasional “Inovasi Pengajaran Bahasa Jawa” pada:
Hari, tanggal Kamis, 5 Maret 2009
Pukul 08.00 – 15.00 WIB
Tempat Gedung B6 FBS Unnes Kampus Sekaran
Peserta guru (SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK), dosen, mahasiswa, pengamat, dan peminat lain
Pembicara : 1. Prof. Dr. Setyo Yuwono Sudikan (Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya)
2. Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum. (dosen Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang)
3. Dr. Suwarna, M.Pd. (dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Yogyakarta)
4. Pemakalah pendamping, yakni para pemakalah yang telah lolos seleksi dan memenuhi ketentuan penyelenggara.
Informasi: Nela Farha (085642769933), Tantri (085214695465)
Demak, (dan) Keseniannya
Oleh Dhoni Zustiyantoro
Seni merupakan suatu hal (kecil) yang pasti dimiliki oleh manusia. Setiap manusia normal pasti memiliki jiwa seni yang telah tercipta sejak dia lahir. Apapun bentuk seni itu, setiap manusia selalu berusaha untuk menciptakan di bidangnya sendiri. Entah itu di bidang musik, seni rupa, kesenian tradisional, dan lain sebagainya. Para pelaku seni sering disebut sebagai seorang seniman atau pekerja seni. Seni adalah penghias jiwa. Dengannya manusia bisa menikmati hidup yang sebenarnya.
Kesenian sebagai salah satu cabang kebudayaan yang estetis, dalam perkembangannya kesenian tersebut tidak lepas dari konteks masyarakat. Menurut Rohidi (1998:13-14) bahwa tiap-tiap kesenian daerah menunjukan sifat daerah masing-masing yang menjadi identitasnya. Nilai-nilai kehidupan serta gagasan masyarakat pendukungnya melatarbelakangi kesenian yang terwujud dalam bentuk kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat pendukungnya.
Di tengah era globalisasi sekarang ini, kesenian tradisional semakin terpojok keberadaannya. Kebudayaan dari luar yang selalu menghujani tanpa henti, membuat kesenian tradisional yang merupakan warisan dari leluhur semakin terkikis jaman. Pemuda sebagai generasi penerus budaya dan kesenian cenderung lepas tangan dengan tanggung jawab mereka sebagai sang “laskar budaya”. Sungguh begitu banyak permasalahan tentang kesenian yang kita hadapi sekarang ini. Belum lagi masalah “bencana kesenian” yang belum lama ini membuat kita geram. Telah banyak hasil kesenian dan kebudayaan nusantara yang dicuri bangsa lain.
Imbas dari terpuruknya kesenian itu adalah semakin tidak tahunya kita akan hasil-hasil kesenian daerah. Dukungan dan perhatian dari pemerintah dan pihak yang terkait yang dirasa kurang, memperlengkap penderitaan terhadap seni tradisi dan etnik. Anak muda yang telah membaur dalam kesenian luar merasa malu berkesenian tradisional. Arus modernisasi memang sangat mustahil untuk di bendung. Yang kita perlukan adalah sikap adaptasi kita terhadap modernisasi yang selaras dengan nilai-nilai jati diri dan kepribadian bangsa. Menurut Tuhusetya dalam Membangun Peradaban yang Sensitifif Terhadap Seni dan Budaya, setidaknya ada dua argumen yang bisa dikemukakan. Pertama, untuk membentengi bangsa dari gerusan nilai-nilai global dan mondial agar jatidiri dan kepribadian bangsa yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang tetap menampilkan entitasnya. Hal ini tak terlepas dari esensi seni dan budaya itu sendiri sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani, nilai kesalehan hidup (baik individu maupun sosial), dan makna kearifan hidup. Melalui seni dan budaya, mata hati kita akan makin terbuka terhadap persoalan-persoalan kebangsaan sehingga mampu melihat setiap persoalan secara jernih; tidak mudah terjebak dan tergelincir dalam jalan hidup yang mengedepankan otot dan kekerasan.
Kedua, menjadikan ”paket” kesenian dan kebudayaan tak hanya sebatas sebagai bagian dari mata rantai industri yang menjanjikan keuntungan materiil, tetapi juga menjadikannya sebagai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro, para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap momen-momen globalisasi dengan menciptakan karya-karya monumental dan representatif yang mampu menembus batas-batas geografis, tak sekadar menjadi karya masterpiece di negeri sendiri. Lobi kesenian dan kebudayaan antarbangsa pun perlu dibuka dan dihidupkan.
Melihat hal tersebut, pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan ruang yang lebih untuk dunia kesenian, terutama kesenian tradisional dan etnik. Kebebasan berkarya dan berekspresi yang sering digembar-gemborkan belum terealisasi dengan nyata. Dengan kebebasan berkarya, dimungkinkan para pelaku seni melebarkan sayap, menembus pasar seni luar negeri. Menjalin kerjasama dan kolaborasi dalam bidang seni etnis dan tradisi sangat dimungkinkan.
Mulya Sari Raras; Bukan Sanggar Seni, Hanya Mencoba Bertahan
Di desa Batursari, kecamatan Mranggen, Demak terdapat sebuah sanggar seni anak “Mulya Sari Raras”. Di sanggar seni itu, sekitar 30 anak berusia belasan tahun belajar karawitan, tembang, pedalangan, dan tari. Dibawah asuhan mbah Jan dan bapak Indra. Mbah jan adalah pengurus dan sesepuh Pepadi (Persatuan pedalangan Indonesia) Demak, adapun bapak Indra adalah lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) jurusan karawitan. Mengingat sanggar tersebut dibina oleh orang-orang yang berkompeten dibidangnya, Mulya Sari Raras pada tahun 2008 telah berhasil mendapat beberapa penghargaan, diantaranya :
1. Juara 1 lomba karawitan tingkat kabupaten.
2. Juara 1 lomba karawitan anak tingkat eks-karesidenan Semarang, dan
3. Juara 3 porseni karawitan anak tingkat Jateng.
Dalam proses latihan, kedisiplinan dan ketertiban peraturan menjadi nomor satu. Misalkan saja, saat latihan harus datang tepat waktu, dan bila memasuki waktu sholat harus menyegerakan sholat berjamaah. Hasil dari kedisiplinan dan kerja keras mereka tidaklah sia-sia. Satu hal yang patut dibanggakan adalah sanggar Mulya Sari Raras telah melakukan rekaman Lelagon Dolanan Anak karya Widodo Brotosejati, S.Sn., M.Sn. beliau adalah seniman dan dosen di jurusan Sendratasik (Seni, drama tari, dan musik) Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Tentu hal ini adalah kebanggaan tersendiri bagi sanggar dan kota Demak sebagai tempat dimana sanggar berdiri. Ternyata Demak telah memiliki generasi penerus dan pelestari kesenian Jawa yang usianya baru belasan tahun.
Dalam album rekaman tersebut, terdapat tujuh lagu dolanan ciptaan dari bapak Widodo, dan tiga lagu lama yang di aransemen ulang sehingga lebih enak untuk dinikmati. Lagu-lagu tersebut adalah;
1. Tari bali, cipt. Widodo BS (merupakan materi dalam porseni karawitan anak 2008)
2. Ambangun desa, cipt. Widodo BS
3. Ijo royo-royo, cipt. Widodo BS
4. Nonton wayang, cipt. Widodo BS
5. Sapi, cipt. NN
6. Dongengan, cipt. Widodo BS
7. Bocah dolan, cipt. NN
8. Swara kewan, cipt. Widodo BS
9. Tikus pithi-sarsur kulonan, cipt. NN
10. Mulih kamulane, cipt. Widodo BS
Dalam album Lelagon Dolanan Anak tersebut, sanggar Mulya Sari Raras mengisi vokal dan musik karawitan diisi oleh karawitan Sekar Dhomas dari Unnes yang anggotanya merupakan gabungan mahasiswa dan dosen. Album rekaman tersebut telah di lounching oleh Unnes pada tanggal 27 november 2008 dengan mengundang gubernur Jateng, dan karawitan anak Mulya Sari Raras sebagai salah satu pengisi acara.
Anak-anak adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual harus selalu dibina dan dijaga dengan baik. Berhasil atau tidaknya seseorang nantinya, salah satu faktor penyebabnya adalah pendidikan saat masa pertumbuhan itu. Lelagon Dolanan Anak karya bapak Widodo mengandung nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Melalui lelagon (lagu Jawa) yang mudah dimengerti dan dipahami oleh anak-anak, bapak Widodo mengajak generasi penerus bangsa itu untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan dan kesenian Jawa, yang semakin terlupakan oleh teman-teman seusianya. Nilai-nilai luhur dan gambaran umum yang terdapat dalam lelagon tersebut, antara lain;
1. Tari bali : gambaran kekaguman seorang anak ketika melihat indahnya tarian bali, ajakan untuk mencintai dan menjaga keragaman kesenian nusantara.
2. Ambangun desa : ajakan untuk membangun kembali desa yang telah ditinggal lama merantau ke kota.
3. Ijo royo-royo : ajakan untuk menjaga keanekaragaman hayati.
4. Nonton wayang : ajakan untuk menonton wayang.
5. Swara kewan : ajakan untuk menjaga hewan dan tidak memburunya.
6. Mulih kamulane : ajakan untuk selalu bertawakal kepada-Nya, karena suatu saat kita pasti kembali padanya.
Terlepas dari kebanggan dan keberhasilan Mulya Sari Raras dalam bidang kesenian Jawa, perhatian dan dukungan pihak pemerintah kabupaten dirasa kurang. Tidak jarang pengurus harus menambahi kekurangan biaya kegiatan dengan uang pribadi. Pemda seakan tidak tahu dan acuh pada semua kegiatan yang sebenarnya membawa nama besar, perwakilan dari Demak.
Tidak dapat dipungkiri, geliat kesenian di kota Demak seakan telah mati, hanya pada waktu-waktu tertentu terdapat acara kesenian. Itupun hanya beberapa yang menampilkan kesenian tradisional, selebihnya adalah acara yang menampilkan musik modern. Anak-anak sebagai obyek utama generasi penerus dan pelestari kebudayaan Jawa haruslah selalu dibina dan dibimbing untuk meneruskan tugas itu. Mulya Sari Raras ada karena rasa kecintaan yang mendalam mbah Jan kepada kesenian dan kebudayaan tradisional.
Konser-konser musik band dan (terutama) dangdut yang disuguhkan di Demak tidak pernah sepi dikunjungi oleh para kawula muda. Tempat koser selalu penuh sesak oleh penonton yang sebagian besar memang remaja. Suasana tersebut tentu sangat berbeda dengan pagelaran seni yang (terkadang) diadakan dalam acara tertentu. Para remaja menganggap musik dan kesenian tradisional merupakan konsumsi orang yang sudah tua, sehingga dianggap ndesa dan gak gaul, ngisin-ngisini.
Mulya Sari Raras (mungkin) belum bisa disebut sebagai sanggar, karena didalam kegiatan tidak terdapat biaya administrasi atau apapun yang berhubungan dengan uang. Semua kegiatan berlangsung dengan bermodal ingin mendalami dan melestarikan kesenian Jawa. Bapak Indra mengaku tidak tahu bagaimana sebenarnya bentuk dari sanggar yang sebenarnya. “Mungkin Mulya Sari Raras belum patut disebut sebagai sanggar”, Jelasnya. Tenaga pengajarpun sama sekali tidak mendapatkan gaji. Bahkan ada salah seorang yang iri melihat keberhasilan Mulya Sari Raras, dan mengatakan “sanggar kere”, sehingga sempat membuat mbah Jan marah. Hanya sesekali ada salah seorang orang tua murid yang memberikan perhatian lebih kepada sanggar, dengan cara memberikan makan kepada anak-anak sanggar disaat latihan.
Begitu mengenaskan nasib para penerus seni dan budaya kita. Bila hal seperti ini terus-menerus ‘menjangkiti’, mereka dikhawatirkan akan hilang kepedulian, kecintaan, dan kebanggaan pada seni budaya bangsa. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka dapat saja tumbuh menjadi generasi yang individualis, materialistik, sekuler, dan hedonis. Sungguh berat usaha untuk mengenalkan seni dan kebudayaan tradisional yang sebenarnya merupakan milik bangsa kita sendiri. Ternyata lebih mudah mengenalkan kepada mereka budaya-budaya barat yang sebenarnya tidak selaras dengan faham dan adat hidup orang Jawa. Semoga hal ini menjadi perhatian kita semua dan pihak-pihak yang terkait pada khususnya. Mulya Sari Raras akan terus ada, karena seni dan budaya akan tetap ada!!!
Menumbuhkan Kecintaan Kepada Musik Tradisi
Oleh Dhoni Zustiyantoro
Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakat Indonesia, telah lahir tumbuh dan berkembang seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk instrumen musiknya. Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat kebersamaan yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan. Seiring dengan perjalanan waktu dan semakin ditinggalkanya spirit dari seni tradisi tersebut, karekter kita semakin berubah dari sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual dan egoistis.
Sangat sulit menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada musik tradisi kepada generasi muda sekarang. Musik modern seakan telah menjadi jiwa mereka seutuhnya, mereka merasa malu bersentuhan dengan musik tradisional. Acara yang menyuguhkan video klip modern (band) semakin menjamur di televisi. Generasi MTV benar-benar menjangkiti generasi penerus bangsa saat ini.
Televisi merupakan media yang sangat berpengaruh kepada masyarakat umum, khususnya remaja. Dipastikan setiap hari tidak kurang dari 5 jam mereka menonton acara-acara yang disuguhkan tanpa henti. Acara-acara favorit termasuk penayangan video klip band yang sedang digandrungi remaja termasuk liputan artis yang sedang naik daun, menjadi tinggi rattingnya. Stasiun TV seakan berlomba menyajikan dalam bentuk yang lain, agar terlihat berbeda dan lebih disukai.
Di Indonesia, seni (musik) tradisi biasa dianggap sebagai sebuah hal yang ketinggalan jaman, sedangkan pengaruh dari barat selalu di agung-agungkan, karena dianggap sebagai agen perubahan menuju kemajuan. Tidak terhitung lagi berapa pernyataan yang menyatakan bahwa musik tradisi harus selalu dijaga dan dilestarikan sebagai ciri dan identitas etnis sebuah bangsa. Namun kenyataannya belumlah demikian, berbagai elemen terkait harus berbenah jika ingin hal itu tercapai.
Kenyataan yang ada adalah musik tradisi semakin tidak terkenal dan tidak di cintai negaranya sendiri. Berbagai faktor diantaranya adalah; (1) sarana dan prasarana penunjang musik tradisi yang masih sulit ditemukan, (2) seni terutama musik tradisi masih kurang berperan dalam pendidikan di sekolah, jikapun ada hanya sebatas pada “ekstrakurikuler” saja, itupun dengan porsi yang sangat minim. Mengingat jenjang pendidikan merupakan langkah awal menumbuhkan dan memperkenalkan kebudayaan dan seni.
Musik tradisi Indonesia ternyata lebih dihargai di mancanegara. Di Amerika, tidak kurang dari 600 unit gamelan Jawa telah tersedia. Di Negara adikuasa itu gamelan telah diajarkan diberbagai universitas di UCLA, San Diego, Berkeley, Wisconsin, Wasingthon dan masih banyak lagi. Gamelan di Inggris juga dikenal lewat program Good Vibrations. Program ini dibuat di penjara Top Security Prison Wakefield untuk mengatasi masalah kejiwaan dan perilaku manusia.yang putus asa karena terjerat narkoba, kriminalitas dan psikologi berat. Dengan konsep berekspresi lewat musik gamelan yang mengutamakan kebersamaan, toleransi, kerjasama dan pengendalian emosi program ini telah berhasil dijalankan. Hingga saat ini telah lebih dari 14 penjara mengadopsi sistem ini. Walau dalam berbagai bidang prestasi Indonesia masih belum berkumandang setidaknya dengan eksisnya gamelan diberbagai penjuru dunia mampu membawa perdamaian didunia.
Menilik kepada kebiasaan remaja saat ini yang gemar menonton televisi, agaknya kecintaan dan kebanggaan kepada musik tradisi bisa ditanamkan melalui media tersebut. Tayangan-tayangan televisi sedikit banyak mempengaruhi remaja dalam masa pertumbuhannya. Semakin banyaknya acara musik modern dan tidak tersentuh dan tidak tertayangkannya acara musik tradisi sebagai ulasan pengetahuan, membuat generasi penerus bangsa ‘buta’ akan musik tradisi yang seharusnya mereka lestarikan. Di sini remaja tidak hanya ‘pewaris’ tetapi juga wakil dari sebuah tradisi yang lebih besar. Beberapa tahun yang lalu kita masih melihat tayangan ketoprak atau wayang disiarkan secara rutin, tapi kini ‘kebiasaan’ tersebut telah hilang, tergerus oleh film-film impor yang membanjiri televisi saat menjelang malam. Sinetron lokal yang selalu bertema percintaan, tak pernah jenuh di konsumsi kaum muda karena mereka dalam masa puber, merasa mengalami apa yang mereka tonton. Remaja yang menjadi objek bidik para konseptor program televisipun tak pernah mengeluh pada tayangan yang mereka tonton yang terkadang kelewat fulgar. Sungguh televisi benar-benar telah menjadi remote control kebudayaan.
Akhirnya dengan segala harapan dan cita kepada wakil tradisi kebudayaan kita, tayangan televisi hendaknya memberikan porsi kepada kesenian tradisional terutama musik tradisi. Musik tradisi Indonesia telah menjadi bagian dari kekayaan budaya internasional dan telah di akui dunia sebagai warisan budaya. Semoga nantinya anak cucu kita tidak kaget melihat kesenian tradisi, yang sebelumnya memang belum pernah mereka lihat di televisi. Semoga!!!
17 Januari 2009
Wayang diiringi capursari, inovasi atau mateni?
Kamis, 1 januari 2009 bertepatan dengan tahun baru dan malam jumat kliwon, sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh DEKASE. Lakon Cupumanik Astagina dimainkan semalam suntuk oleh dalang sanggar seni 99 dari Mijen-Semarang, pakeliran tersebut merupakan pakeliran pertama di tahun 2009. Tidak seperti biasanya, dalam acara wayangan tersebut disertai pula dengan iringan musik campursari dengan beberapa biduan pengiring. Campursari dimainkan pada adegan limbukan dan gara-gara, penonton gayeng, rasa kantukpun hilang.
Kontroversi akan adanya campursari dalam pegelaran wayang sudah berlangsung lama. Banyak dalang yang selalu mengikuti pakem pakeliran, menentang keras adanya musik campursari saat wayangan. Musik campursari dianggap “merusak” pakem pakeliran yang telah di sanggit. Beberapa penontonpun ternyata ada yang hanya menantikan pentas campursari, setelah campurasi selesai mereka pulang.
Namun ada beberapa orang yang setuju dengan inovasi baru tersebut, Yoga adalah salah satunya. Dia mengaku menyukai wayang yang diiringi campursari dengan alasan hal tersebut merupakan sebuah terobosan yang bagus untuk menarik masyarakat yang belum tertarik dengan wayang.
Memang bagaimanapun sebuah inovasi tidak bisa terlepas dari pro dan kontra. Apalagi wayang merupakan sebuah aset budaya jawa yang luhur, bukan hanya sebagai tontonan tetapi juga menjadi tuntunan untuk masyarakat. Apapun bentuk realisasinya, pagelaran wayang hendaklah selalu dijaga dan dilestarikan sebagai benteng budaya bangsa.
05 Januari 2009
Macapatan-Pak Widodo Brotosejati, S.Sn., M.Sn
Sekar Macapat Mijil – Gagadwaspa, Laras Slendro Pathet Sanga Miring
2 5 6 6 ‘ 5 6 \! \! x\x!x6 \x!x@
Po - ma ka - ki pa - dha di - pun e - ling
6 5 6 6 x6x x\! x6x x5
Ing pi - tu - tur i - ngong
2 5 6 x6x \! ‘ 5 2 2 2 x2x x\3 x\1x x xy
Si - ra u - ga sa - tri - ya a - ra - ne
\1 y t 2 ‘ \1 y y xyx\x1 t 6
Ku - du an - teng jat - mi - ka ing bu - di
5 x6x\! 5 5 \x6x5 \x3x2
Ru - ruh sar - ta wa - sis
y xtxy y y xyx x\1 xyx xt
Sa - mu ba - rang tan - duk
Sekar Macapat Sinom – grandhel, Laras Pelog Pathet Nem
! @ @ @ ! ! ! !
Bong - gan kang tan mer - lok e - na
6 5 5 5 6 ! x@x x! x6x x5
Mung - guh u - ger ing a - u - rip
! @ @ @ ! 6 6 x5x x6
U - rip - e ing tri pra - ka - ra
6 6 6 5 6 2 x2x x1 y
Wir - ya har - ta tri wi - na - sis
3 5 5 5 6 6 6
Ka - la - mun kong - si se - pi
! @ # ! 6 5 x6x x5 x3x x2
Sa - ka wi - la - ngan ka - te - lu
1 2 3 3 3 3 3
Te - las te - las ing jan - ma
6 6 6 5 6 2 x2x x1 y
A - ji go - dhong ja - ti a - king
3 5 5 5 ‘ 5 6 ! x!x x@ 6 5 x6x5 x3x2
