Oleh Dhoni Zustiyantoro
Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakat Indonesia, telah lahir tumbuh dan berkembang seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk instrumen musiknya. Hampir seluruh seni tradisional Indonesia mempunyai semangat kebersamaan yang tinggi sehingga dapat dikenali karakter khas masyarakat Indonesia, yaitu ramah dan sopan. Seiring dengan perjalanan waktu dan semakin ditinggalkanya spirit dari seni tradisi tersebut, karekter kita semakin berubah dari sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan menjadi individual dan egoistis.
Sangat sulit menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada musik tradisi kepada generasi muda sekarang. Musik modern seakan telah menjadi jiwa mereka seutuhnya, mereka merasa malu bersentuhan dengan musik tradisional. Acara yang menyuguhkan video klip modern (band) semakin menjamur di televisi. Generasi MTV benar-benar menjangkiti generasi penerus bangsa saat ini.
Televisi merupakan media yang sangat berpengaruh kepada masyarakat umum, khususnya remaja. Dipastikan setiap hari tidak kurang dari 5 jam mereka menonton acara-acara yang disuguhkan tanpa henti. Acara-acara favorit termasuk penayangan video klip band yang sedang digandrungi remaja termasuk liputan artis yang sedang naik daun, menjadi tinggi rattingnya. Stasiun TV seakan berlomba menyajikan dalam bentuk yang lain, agar terlihat berbeda dan lebih disukai.
Di Indonesia, seni (musik) tradisi biasa dianggap sebagai sebuah hal yang ketinggalan jaman, sedangkan pengaruh dari barat selalu di agung-agungkan, karena dianggap sebagai agen perubahan menuju kemajuan. Tidak terhitung lagi berapa pernyataan yang menyatakan bahwa musik tradisi harus selalu dijaga dan dilestarikan sebagai ciri dan identitas etnis sebuah bangsa. Namun kenyataannya belumlah demikian, berbagai elemen terkait harus berbenah jika ingin hal itu tercapai.
Kenyataan yang ada adalah musik tradisi semakin tidak terkenal dan tidak di cintai negaranya sendiri. Berbagai faktor diantaranya adalah; (1) sarana dan prasarana penunjang musik tradisi yang masih sulit ditemukan, (2) seni terutama musik tradisi masih kurang berperan dalam pendidikan di sekolah, jikapun ada hanya sebatas pada “ekstrakurikuler” saja, itupun dengan porsi yang sangat minim. Mengingat jenjang pendidikan merupakan langkah awal menumbuhkan dan memperkenalkan kebudayaan dan seni.
Musik tradisi Indonesia ternyata lebih dihargai di mancanegara. Di Amerika, tidak kurang dari 600 unit gamelan Jawa telah tersedia. Di Negara adikuasa itu gamelan telah diajarkan diberbagai universitas di UCLA, San Diego, Berkeley, Wisconsin, Wasingthon dan masih banyak lagi. Gamelan di Inggris juga dikenal lewat program Good Vibrations. Program ini dibuat di penjara Top Security Prison Wakefield untuk mengatasi masalah kejiwaan dan perilaku manusia.yang putus asa karena terjerat narkoba, kriminalitas dan psikologi berat. Dengan konsep berekspresi lewat musik gamelan yang mengutamakan kebersamaan, toleransi, kerjasama dan pengendalian emosi program ini telah berhasil dijalankan. Hingga saat ini telah lebih dari 14 penjara mengadopsi sistem ini. Walau dalam berbagai bidang prestasi Indonesia masih belum berkumandang setidaknya dengan eksisnya gamelan diberbagai penjuru dunia mampu membawa perdamaian didunia.
Menilik kepada kebiasaan remaja saat ini yang gemar menonton televisi, agaknya kecintaan dan kebanggaan kepada musik tradisi bisa ditanamkan melalui media tersebut. Tayangan-tayangan televisi sedikit banyak mempengaruhi remaja dalam masa pertumbuhannya. Semakin banyaknya acara musik modern dan tidak tersentuh dan tidak tertayangkannya acara musik tradisi sebagai ulasan pengetahuan, membuat generasi penerus bangsa ‘buta’ akan musik tradisi yang seharusnya mereka lestarikan. Di sini remaja tidak hanya ‘pewaris’ tetapi juga wakil dari sebuah tradisi yang lebih besar. Beberapa tahun yang lalu kita masih melihat tayangan ketoprak atau wayang disiarkan secara rutin, tapi kini ‘kebiasaan’ tersebut telah hilang, tergerus oleh film-film impor yang membanjiri televisi saat menjelang malam. Sinetron lokal yang selalu bertema percintaan, tak pernah jenuh di konsumsi kaum muda karena mereka dalam masa puber, merasa mengalami apa yang mereka tonton. Remaja yang menjadi objek bidik para konseptor program televisipun tak pernah mengeluh pada tayangan yang mereka tonton yang terkadang kelewat fulgar. Sungguh televisi benar-benar telah menjadi remote control kebudayaan.
Akhirnya dengan segala harapan dan cita kepada wakil tradisi kebudayaan kita, tayangan televisi hendaknya memberikan porsi kepada kesenian tradisional terutama musik tradisi. Musik tradisi Indonesia telah menjadi bagian dari kekayaan budaya internasional dan telah di akui dunia sebagai warisan budaya. Semoga nantinya anak cucu kita tidak kaget melihat kesenian tradisi, yang sebelumnya memang belum pernah mereka lihat di televisi. Semoga!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar