24 Januari 2009

Demak, (dan) Keseniannya

Oleh Dhoni Zustiyantoro

 

Seni merupakan suatu hal (kecil) yang pasti dimiliki oleh manusia. Setiap manusia normal pasti memiliki jiwa seni yang telah tercipta sejak dia lahir. Apapun bentuk seni itu, setiap manusia selalu berusaha untuk menciptakan di bidangnya sendiri. Entah itu di bidang musik, seni rupa, kesenian tradisional, dan lain sebagainya. Para pelaku seni sering disebut sebagai seorang seniman atau pekerja seni. Seni adalah penghias jiwa. Dengannya manusia bisa menikmati hidup yang sebenarnya.

Kesenian sebagai salah satu cabang kebudayaan yang estetis, dalam perkembangannya kesenian tersebut tidak lepas dari konteks masyarakat. Menurut Rohidi (1998:13-14) bahwa tiap-tiap kesenian daerah menunjukan sifat daerah masing-masing yang menjadi identitasnya. Nilai-nilai kehidupan serta gagasan masyarakat pendukungnya melatarbelakangi kesenian yang terwujud dalam bentuk kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat pendukungnya.

Di tengah era globalisasi sekarang ini, kesenian tradisional semakin terpojok keberadaannya. Kebudayaan dari luar yang selalu menghujani tanpa henti, membuat kesenian tradisional yang merupakan warisan dari leluhur semakin terkikis jaman. Pemuda sebagai generasi penerus budaya dan kesenian cenderung lepas tangan dengan tanggung jawab mereka sebagai sang “laskar budaya”. Sungguh begitu banyak permasalahan tentang kesenian yang kita hadapi sekarang ini. Belum lagi masalah “bencana kesenian” yang belum lama ini membuat kita geram. Telah banyak hasil kesenian dan kebudayaan nusantara yang dicuri bangsa lain.

Imbas dari terpuruknya kesenian itu adalah semakin tidak tahunya kita akan hasil-hasil kesenian daerah. Dukungan dan perhatian dari pemerintah dan pihak yang terkait yang dirasa kurang, memperlengkap penderitaan terhadap seni tradisi dan etnik. Anak muda yang telah membaur dalam kesenian luar merasa malu berkesenian tradisional. Arus modernisasi memang sangat mustahil untuk di bendung. Yang kita perlukan adalah sikap adaptasi kita terhadap modernisasi yang selaras dengan nilai-nilai jati diri dan kepribadian bangsa. Menurut Tuhusetya dalam Membangun Peradaban yang Sensitifif Terhadap Seni dan Budaya, setidaknya ada dua argumen yang bisa dikemukakan. Pertama, untuk membentengi bangsa dari gerusan nilai-nilai global dan mondial agar jatidiri dan kepribadian bangsa yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang tetap menampilkan entitasnya. Hal ini tak terlepas dari esensi seni dan budaya itu sendiri sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani, nilai kesalehan hidup (baik individu maupun sosial), dan makna kearifan hidup. Melalui seni dan budaya, mata hati kita akan makin terbuka terhadap persoalan-persoalan kebangsaan sehingga mampu melihat setiap persoalan secara jernih; tidak mudah terjebak dan tergelincir dalam jalan hidup yang mengedepankan otot dan kekerasan.

Kedua, menjadikan ”paket” kesenian dan kebudayaan tak hanya sebatas sebagai bagian dari mata rantai industri yang menjanjikan keuntungan materiil, tetapi juga menjadikannya sebagai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro, para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap momen-momen globalisasi dengan menciptakan karya-karya monumental dan representatif yang mampu menembus batas-batas geografis, tak sekadar menjadi karya masterpiece di negeri sendiri. Lobi kesenian dan kebudayaan antarbangsa pun perlu dibuka dan dihidupkan.

Melihat hal tersebut, pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan ruang yang lebih untuk dunia kesenian, terutama kesenian tradisional dan etnik. Kebebasan berkarya dan berekspresi yang sering digembar-gemborkan belum terealisasi dengan nyata. Dengan kebebasan berkarya, dimungkinkan para pelaku seni melebarkan sayap, menembus pasar seni luar negeri. Menjalin kerjasama dan kolaborasi dalam bidang seni etnis dan tradisi sangat dimungkinkan.

 

Mulya Sari Raras; Bukan Sanggar Seni, Hanya Mencoba Bertahan

Di desa Batursari, kecamatan Mranggen, Demak terdapat sebuah sanggar seni anak “Mulya Sari Raras”. Di sanggar seni itu, sekitar 30 anak berusia belasan tahun belajar karawitan, tembang, pedalangan, dan tari.  Dibawah asuhan mbah Jan dan bapak Indra. Mbah jan adalah pengurus dan sesepuh Pepadi (Persatuan pedalangan Indonesia) Demak, adapun bapak Indra adalah lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) jurusan karawitan. Mengingat sanggar tersebut dibina oleh orang-orang yang berkompeten dibidangnya, Mulya Sari Raras pada tahun 2008 telah berhasil mendapat beberapa penghargaan, diantaranya :

1.      Juara 1 lomba karawitan tingkat kabupaten.

2.      Juara 1 lomba karawitan anak tingkat eks-karesidenan Semarang, dan

3.      Juara 3 porseni karawitan anak tingkat Jateng.

Dalam proses latihan, kedisiplinan dan ketertiban peraturan menjadi nomor satu. Misalkan saja, saat latihan harus datang tepat waktu, dan bila memasuki waktu sholat harus menyegerakan sholat berjamaah. Hasil dari kedisiplinan dan kerja keras mereka tidaklah sia-sia. Satu hal yang patut dibanggakan adalah sanggar Mulya Sari Raras telah melakukan rekaman Lelagon Dolanan Anak karya Widodo Brotosejati, S.Sn., M.Sn. beliau adalah seniman dan dosen di jurusan Sendratasik (Seni, drama tari, dan musik) Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Tentu hal ini adalah kebanggaan tersendiri bagi sanggar dan kota Demak sebagai tempat dimana sanggar berdiri. Ternyata Demak telah memiliki generasi penerus dan pelestari kesenian Jawa yang usianya baru belasan tahun.

Dalam album rekaman tersebut, terdapat tujuh lagu dolanan ciptaan dari bapak Widodo, dan tiga lagu lama yang di aransemen ulang sehingga lebih enak untuk dinikmati. Lagu-lagu tersebut adalah;

1.      Tari bali, cipt. Widodo BS (merupakan materi dalam porseni karawitan anak 2008)

2.      Ambangun desa, cipt. Widodo BS

3.      Ijo royo-royo, cipt. Widodo BS

4.      Nonton wayang, cipt. Widodo BS

5.      Sapi, cipt. NN

6.      Dongengan, cipt. Widodo BS

7.      Bocah dolan, cipt. NN

8.      Swara kewan, cipt. Widodo BS

9.      Tikus pithi-sarsur kulonan, cipt. NN

10.  Mulih kamulane, cipt. Widodo BS

 

Dalam album Lelagon Dolanan Anak tersebut, sanggar Mulya Sari Raras mengisi vokal dan musik karawitan diisi oleh karawitan Sekar Dhomas dari Unnes yang anggotanya merupakan gabungan mahasiswa dan dosen. Album rekaman tersebut telah di lounching oleh Unnes pada tanggal 27 november 2008 dengan mengundang gubernur Jateng, dan karawitan anak Mulya Sari Raras sebagai salah satu pengisi acara.

Anak-anak adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangan mental dan spiritual harus selalu dibina dan dijaga dengan baik. Berhasil atau tidaknya seseorang nantinya, salah satu faktor penyebabnya adalah pendidikan saat masa pertumbuhan itu. Lelagon Dolanan Anak karya bapak Widodo mengandung nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Melalui lelagon (lagu Jawa) yang mudah dimengerti dan dipahami oleh anak-anak, bapak Widodo mengajak generasi penerus bangsa itu untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan dan kesenian Jawa, yang semakin terlupakan oleh teman-teman seusianya. Nilai-nilai luhur dan gambaran umum yang terdapat dalam lelagon tersebut, antara lain;

1.      Tari bali : gambaran kekaguman seorang anak ketika melihat indahnya tarian bali, ajakan untuk mencintai dan menjaga keragaman kesenian nusantara.

2.      Ambangun desa : ajakan untuk membangun kembali desa yang telah ditinggal lama merantau ke kota.

3.      Ijo royo-royo : ajakan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

4.      Nonton wayang : ajakan untuk menonton wayang.

5.      Swara kewan   : ajakan untuk menjaga hewan dan tidak memburunya.

6.      Mulih kamulane : ajakan untuk selalu bertawakal kepada-Nya, karena suatu saat kita pasti kembali padanya.

 

Terlepas dari kebanggan dan keberhasilan Mulya Sari Raras dalam bidang kesenian Jawa, perhatian dan dukungan pihak pemerintah kabupaten dirasa kurang. Tidak jarang pengurus harus menambahi kekurangan biaya kegiatan dengan uang pribadi. Pemda seakan tidak tahu dan acuh pada semua kegiatan yang sebenarnya membawa nama besar, perwakilan dari Demak.

Tidak dapat dipungkiri, geliat kesenian di kota Demak seakan telah mati, hanya pada waktu-waktu tertentu terdapat acara kesenian. Itupun hanya beberapa yang menampilkan kesenian tradisional, selebihnya adalah acara yang menampilkan musik modern. Anak-anak sebagai obyek utama generasi penerus dan pelestari kebudayaan Jawa haruslah selalu dibina dan dibimbing untuk meneruskan tugas itu. Mulya Sari Raras ada karena rasa kecintaan yang mendalam mbah Jan kepada kesenian dan kebudayaan tradisional.

Konser-konser musik band dan (terutama) dangdut yang disuguhkan di Demak tidak pernah sepi dikunjungi oleh para kawula muda. Tempat koser selalu penuh sesak oleh penonton yang sebagian besar memang remaja. Suasana tersebut tentu sangat berbeda dengan pagelaran seni yang (terkadang) diadakan dalam acara tertentu. Para remaja menganggap musik dan kesenian tradisional merupakan konsumsi orang yang sudah tua, sehingga dianggap ndesa dan gak gaul, ngisin-ngisini.

Mulya Sari Raras (mungkin) belum bisa disebut sebagai sanggar, karena didalam kegiatan tidak terdapat biaya administrasi atau apapun yang berhubungan dengan uang. Semua kegiatan berlangsung dengan bermodal ingin mendalami dan melestarikan kesenian Jawa. Bapak Indra mengaku tidak tahu bagaimana sebenarnya bentuk dari sanggar yang sebenarnya. “Mungkin Mulya Sari Raras belum patut disebut sebagai sanggar, Jelasnya. Tenaga pengajarpun sama sekali tidak mendapatkan gaji. Bahkan ada salah seorang yang iri melihat keberhasilan Mulya Sari Raras, dan mengatakan “sanggar kere”, sehingga sempat membuat mbah Jan marah. Hanya sesekali ada salah seorang orang tua murid yang memberikan perhatian lebih kepada sanggar, dengan cara memberikan makan kepada anak-anak sanggar disaat latihan.

Begitu mengenaskan nasib para penerus seni dan budaya kita. Bila hal seperti ini terus-menerus ‘menjangkiti’, mereka dikhawatirkan akan hilang kepedulian, kecintaan, dan kebanggaan pada seni budaya bangsa. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka dapat saja tumbuh menjadi generasi yang individualis, materialistik, sekuler, dan hedonis. Sungguh berat usaha untuk mengenalkan seni dan kebudayaan tradisional yang sebenarnya merupakan milik bangsa kita sendiri. Ternyata lebih mudah mengenalkan kepada mereka budaya-budaya barat yang sebenarnya tidak selaras dengan faham dan adat hidup orang Jawa. Semoga hal ini menjadi perhatian kita semua dan pihak-pihak yang terkait pada khususnya. Mulya Sari Raras akan terus ada, karena seni dan budaya akan tetap ada!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar