17 Januari 2009

Wayang diiringi capursari, inovasi atau mateni?

Mitos angker di malam jumat kliwon ditepis oleh Dewan Kesenian Semarang (DEKASE). Buktinya setiap sebulan sekali tepatnya malam jumat kliwon, DEKASE selalu mengadakan wayangan atau nanggap wayang. Itu adalah salah satu upaya untuk nguri-uri kabudayan jawi. Pagelaran wayang di kota Semarang memang masih mendapat tempat di hati penikmatnya. Terbukti setiap wayangan yang bertempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) selalu ramai dikunjungi para penikmat pagelaran wayang di kota itu. Penikmat pagelaranpun bervariasi, mulai dari anak-anak hingga orang yang sudah sepuh, tukang becak hingga pejabat, sampai seniman dan pemerhati seni.

Kamis, 1 januari 2009 bertepatan dengan tahun baru dan malam jumat kliwon, sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh DEKASE. Lakon Cupumanik Astagina dimainkan semalam suntuk oleh dalang sanggar seni 99 dari Mijen-Semarang, pakeliran tersebut merupakan pakeliran pertama di tahun 2009. Tidak seperti biasanya, dalam acara wayangan tersebut disertai pula dengan iringan musik campursari dengan beberapa biduan pengiring. Campursari dimainkan pada adegan limbukan dan gara-gara, penonton gayeng, rasa kantukpun hilang.

Kontroversi akan adanya campursari dalam pegelaran wayang sudah berlangsung lama. Banyak dalang yang selalu mengikuti pakem pakeliran, menentang keras adanya musik campursari saat wayangan. Musik campursari dianggap “merusak” pakem pakeliran yang telah di sanggit. Beberapa penontonpun ternyata ada yang hanya menantikan pentas campursari, setelah campurasi selesai mereka pulang.

Namun ada  beberapa orang yang setuju dengan inovasi baru tersebut, Yoga adalah salah satunya. Dia mengaku menyukai wayang yang diiringi campursari dengan alasan hal tersebut merupakan sebuah terobosan yang bagus untuk menarik masyarakat yang belum tertarik dengan wayang.

Memang bagaimanapun sebuah inovasi tidak bisa terlepas dari pro dan kontra. Apalagi wayang merupakan sebuah aset budaya jawa yang luhur, bukan hanya sebagai tontonan tetapi juga menjadi tuntunan untuk masyarakat. Apapun bentuk realisasinya, pagelaran wayang hendaklah selalu dijaga dan dilestarikan sebagai benteng budaya bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar