30 Oktober 2008
Kembalilah...
Mungkin aku takkan bisa hidup
Karena cinta adalah nafasku,
Dan kamu adalah cinta itu
Kenapa begitu kejamnya kau katakan itu
Padahal aku tak pernah sanggup
Sekedar mendengarnya
Tak tahukah kamu,
Disini hanya ada seorang wanita,
Hanya ada segenggam cinta,
Hembusan nafas,
Itulah kamu
09 Oktober 2008
Untuk Wanitaku
lagi-lagi hanya cinta
membuatku seolah tak berasa,
karenanya yang tak karu
mencabik, membuat sedikit sayatan di hati
dan itupun sedikit sakit
ya, hanya sedikit
karena ku tau lukanya kan mengering
dan takkan membekas
kumohon,
hanya kamu wanita itu
kenapa tak jua kau pahami
padahal luka tlah tak membekas
hingga kau buat luka baru,
wanitaku,
Bangunlah Para Penerus Budaya!
Mencintai kebudayaan tradisional agaknya lebih sulit daripada mencintai kebudayaan modern yang selalu datang tanpa henti. Hal ini sudah terbukti pada mahasiswa baru Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, mereka ‘kurang bisa menerima’ apa yang seharusnya menjadi tugas dan kewajiban sendiri. 18 September 2008 kemarin, mereka mendapat tugas mata kuliah budaya Jawa untuk menonton wayang kulit. Saya yakin, jika tidak ada absensi pada penugasan tersebut, bisa dihitung dengan jari mahasiswa yang benar-benar menonton. Sia-sia mereka begadang sampai menjelang sahur, uang yang mereka keluarkan untuk transport, jika memang sampai disana hanya menahan kantuk. “Ada yang lucu ya mas?”, celetuk seorang mahasiswi kepada saya, saat saya tertawa melihat salah satu adegan gara-gara. Sedangkan dia (mahasiswi itu-red) sedang menahan kantuk sambil sms-an dengan pacar. Begitu juga dengan mengikuti UKM Karawitan dan Panembrama, mahasiswa seakan ‘terpaksa’ mengikutinya karena akan menempuh mata kuliah karawitan dan tembang, selebihnya mereka hanya ikut-ikutan teman. Memang 90% anggota UKM itu adalah mahasiswa bahasa Jawa. Itu adalah potret nyata dari penerus dan pelestari budaya Jawa. Kebudayaan tradisional (Jawa) yang seharusnya mereka junjung tinggi, belum mereka anggap sebagai sebuah hal penting. Kebudayaan modern dan sok kota masih menjadi nomer satu. Mereka malu jika berbau ketradisionalan. Kalau bukan kita, siapa? Apakah harus menunggu sampai kebudayaan tradisional (Jawa) ini tergerus oleh budaya bangsa landa?. Bangunlah!!!.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang
Anak Semarang Malu Berbahasa Jawa?
Saat saya menginjakkan kaki pertama kali di Semarang untuk menimba ilmu, banyak teman-teman saya yang dalam bahasa kesehariannya berbahasa Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa jurusan bahasa Jawa, sayapun sebisa mungkin nyauri menggunakan basa Jawa. Namun, ada seorang teman yang walaupun setiap kali saya ngobrol dengannya menggunakan bahasa Jawa, tapi dia tetap menjawab menggunakan bahasa Indonesia gaul. Padahal diapun mudheng apa yang saya ucapkan. Hal tersebut juga saya jumpai pada seorang adik kelas yang notabene asli Semarang. Walaupun telah memilih bahasa dan sastra Jawa sebagai program studinya, dia mengaku ‘belum bisa’ berbahasa Jawa karena malu. “Saya tu kalau ngomong Jawa pasti lucu mas, ntar pasti diketawain...”, jelasnya. Hal yang sama juga ditemui teman-teman saya yang melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), memang PPL tersebut dilaksanakan di SMP dan SMA di kota Semarang. Para siswa cenderung kesulitan dan ‘membandel’ saat diajak berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Ironis memang, disaat bahasa Jawa digalakkan mulai SD sampai SMA sebagai mata pelajaran, antusias dan respon siswa cenderung sangat berkurang. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia gaul (lu-gue), daripada bahasa nenek moyang yang kelangsungannya berada ditangan mereka. Rasa malu berbahasa Jawapun tampaknya sudah ditanamkan para orang tua mereka sejak kecil. Bagaimana tidak, sejak kecil orang tua telah menggunakan bahasa Indonesia dalam mendidik. Orang tua lebih bangga bila anaknya yang berumur 2 tahun bisa berbahasa Indonesia. Jika memang seperti itu potret generasi penerus bahasa Jawa, maka tinggal menghitung waktulah umur bahasa itu. Apalagi dalam bahasa Jawa terdapat tata krama dan unggah-ungguh yang sangat selaras dengan kehidupan manusia Jawa. Kecenderungan anak untuk tidak sopan dan menghormati orang yang lebih tua, berawal dari bahasanya. Anak jaman sekarang telah sampailah pada tataran yang sangat memprihatinkan. Basa krama yang digunakan untuk berbahasa kepada orang yang lebih tua, tak pernah dikenal oleh anak pada jaman sekarang. Ini adalah pekerjaan rumah untuk kita bersama. Mengutip tulisan dari Sucipto HP, bahwa bahasa Jawa adalah sebuah aset kultural yang harus kita lestarikan dan jaga bersama.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang
Barongan Singo Karyo ; Tetap Berkarya di Tengah Modernisasi
Di Desa Tambirejo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, terdapat kelompok kesenian barongan yang hingga kini masih eksis berkarya. Kelompok kesenian barongan ‘Singo Karyo’ yang dipimpin oleh pak Busono (45), tetap laris di tanggap dalam acara-acara tertentu, seperti sunatan, nikahan, ataupun agustusan. Memang Singo Karyo telah terkenal sampai beberapa kabupaten disekitar Demak, seperti Kudus, Pati, Purwodadi, dan Jepara. Para pemain barongan terdiri dari 20 orang, 10 orang sebagai pemain barongan termasuk jaran eblek (jaran kepang-red), dan 10 orang lainnya sebagai penabuh iringan. Dalam pementasan barongan acap kali pemain kesurupan, karena memang sebelum pentas barongan diberi jampi-jampi dan sajen. Pemain yang memainkan barongan seolah tak sadarkan diri dan suka ngobrak (memberontak-red), anak-anak kecil yang suka menontonpun lari ketakutan. Setiap kali pentas biasanya Singo Karyo memasang tarif 1,5 juta. Itu sudah termasuk biaya transport. Memang jika dibayangkan tidak seberapa upah yang mereka terima dari hasil berkesenian ini. Mungkin jika dihitung bersih, uang yang mereka terima sekali main tidak lebih dari 50 ribu per orang. Upah dari pekerjaan inipun tidak bisa digunakan untuk pekerjaan utama. Kalau musim tanggapan, seperti pada bulan besar atau agustusan, Singo Karyo bisa main ngedhur (main tanpa henti-red). Namun jika sudah lewat bulan-bulan itu, paling hanya satu atau dua yang nanggap, merekapun kembali pada pekerjaan utama yaitu bertani. Kekhawatiranpun muncul dari pak Busono, mengingat tidak adanya generasi muda yang meneruskan mbarong. Beliau sangat khawatir suatu saat nanti Singo Karyo akan hilang ditelan jaman, tergerus oleh modernisasi, hiburan yang semakin beragam. Beliaupun hanya bisa pasrah dan terus berkarya.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa, FBS-Unnes Semarang
PKM, Nasibmu Kini…
Aji termangu di salah satu ruang PKM Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, dia yang telah beberapa semester tinggal di PKM itu merasa khawatir karena belum lama ini mendengar isu bahwa penghuni gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa kampus ungu itu akan segera diusir. Bukan karena dia tidak akan mendapat tempat tinggal gratis lagi, melainkan lebih dari itu. Kekhawatirannya akan kegiatan-kegiatan kampus yang tidak akan berjalan lancar, karena tidak ada yang mengurus secara konsisten, belum lagi isu yang mengatakan bahwa kegiatan kampus akan dibatasi sampai jam 9 malam. “ah, nek kaya ngene kapan kampus bisa maju!!”, resahnya. Memang tak bisa dipungkiri, para aktifis kampus yang telah ‘berkorban’ untuk kemajuan kampus, adalah para pekerja vital yang tak bisa di anggap sebelah mata saja. Loyalitas mereka sebagai ‘pekerja tak terbayar’ patut diperhitungkan. Banyak prestasi baik dari bidang akademik maupun non akademik, mereka jualah yang berada di balik layar. Menurut Aji, jika tidak ada yang tinggal dan mengurus PKM, kegiatan dan kehidupan kampus tidak akan berjalan. Karena kegiatan apapun harus dipersiapkan secara matang, apalagi kegiatan besar seperti OKKA (Orientasi Kehidupan Kampus) yang sekarang menjadi PPA (Program Pengenalan Akademik), atau Bulan Bahasa dan Seni, semuanya membutuhkan rapat dan koordinasi yang baik. “minimal ada penggerak untuk berkegiatan. Okelah kita keluar, tapi setelah itu kampus akan ada apa??”, jelasnya. Semoga saja ‘mereka’ mendengar apa yang dikhawatirkan Aji, dan Aji-Aji yang lain…
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang
Foto copy, Haruskah Membudaya?
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00 (seratus juta rupiah)
Kita sering membaca 'mukadimah' tersebut pada setiap buku yang terbit secara resmi. Kitapun sudah acuh pada maksud dari kata-kata tersebut. Setiap hari, kita mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah, selalu dijejali dengan setumpuk tugas yang memaksa kita untuk membaca buku cetak. Tak jarang banyak dosen yang mewajibkan untuk membeli atau memilikinya. Namun lagi, lagi dan lagi, sebuah masalah klasik yang menjadi kendala adalah masalah biaya. Tak dapat dipungkiri, mahasiswa bagaikan seorang buruh serabutan yang harus pintar-pintar mengatur kantongnya supaya bisa bertahan hidup diperantauan. Cara termudah dan termurah untuk memiliki buku-buku yang memang harganya memang tak murah, adalah dengan mem-foto copy. Terkadang, banyak dosen yang menyuruh mahasiswanya untuk mem-foto copy buku. Entah karena buku tersebut sudah tidak beredar di toko buku, atau memang dosen yang memang 'pengertian' dan kasihan kepada masasiswanya yang harus membeli buku baru. Foto copy agaknya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat kita. Namun akankah hal ini akan kita teruskan dan terus terjadi?. Seorang penulis yang susah payah berkarya, dan akhirnya dapat menerbitkan bukunya. Sebuah penerbitan atau percetakan yang telah menerbitkan karya si penulis. atau pemerintah yang telah melindungi hak cipta dari karya si penulis. Akankah kita tidak menghargai semua itu?. Ataukah kita hanya pelanggar hukum yang selalu mengulang kesalahan?.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang
Mesum Area (lagi dan lagi)
Kreeekkk…. Jam 10 malam seorang satpam menutup pintu gerbang perempatan Unnes arah rektorat. Disitu juga terlihat beberapa satpam yang berjaga. Ais dari kampus akan pulang ke kos mengambil barang, takut karena ditanya dengan sedikit dibentak. “Darimana??!!”, tegas seorang satpam. “Dari kampus pak, ada kegiatan…”, jawab Ais yang setengah takut. “Di perempatan banyak satpam, aq takut gak brani blk. Tak tunggu di dpn BNI aja”, begitu sms Ais mengabarkan kepada saya. Memang di kampus sedang berlangsung kegiatan, dan akan diteruskan nonton bareng di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh). Sayapun budhal bersama teman-teman yang masih di kampus untuk menuju TBRS. Benar apa yang dikabarkan Ais, beberapa satpam berjaga diperempatan bak polisi yang sedang melakukan operasi Satlantas. “Saya minta KTM cewek dan cowok”, pinta seorang satpam. Dengan setengah takut seorang teman cewek memberikan KTM-nya. “Besok ambil di rektorat!”, jelas satpam tersebut. Satpam yang lainpun memasang tampang yang sangat tidak bersahabat, mungkin lebih kaku dari polisi yang sedang operasi Satlantas. Seolah kami adalah para tersangka kriminalitas yang siap untuk dijatuhi hukuman. Apa yang dilakukan oleh satpam tadi?, melakukan razia mahasiswa mesum?, apa yang telah kami lakukan?, kami hanya berkegiatan di kampus!. Jika memang mahasiswa mesum yang dicari, kenapa mereka malah nyegat dan memintai KTM mahasiswa yang lewat?. Jangan salahkan mahasiswa jika mereka berpacaran di area taman, atau sepanjang jalan rektorat, karena mereka memang terfasisilitasi. Taman dan jalanan yang gelap, sepi, bahkan di beberapa tempat telah disediakan tempat duduk yang memadai. Hal-hal tersebut sangat berpotensi untuk menjadi MESUM AREA. Kalaulah satpam dan para petinggi Unnes hanya bisa mencari kesalahan tanpa menghilangkan akar permasalahan, apalah guna. Tengoklah sepanjang perempatan sampai arah rektorat, jalanan yang gelap, hanya beberapa penerangan dapat terhitung dengan jari. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku, tapi juga karena ada kesempatan”, begitu kata Bang Napi.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa, FBS- Unnes Semarang
UKM Kesenian Jawa, Kubawa Kemana?
UKM Kesenian Jawa yang bertempat di gedung B2 lantai 1 FBS Unnes, banyak menuai kontroversi. Perkuliahan jurusan bahasa Inggris dan Sendrtasik merasa terganggu dengan adanya kuliah karawitan jurusan bahasa Jawa. Suara gaduh gamelan dirasa menggangu proses perkuliahan. Diluar jam kuliahpun, UKM sering digunakan untuk latihan rutin anggota. Hingga kini, masalah tersebut belum mendapat solusi yang terbaik. Jika terpaksa memindah perangkat gamelan, tidak ada ruang yang memadai. Kabar terakhir menyebutkan bahwa semua UKM di Unnes akan dipindah ke gedung baru di dekat PKM Pusat, termasuk UKM Kesenian Jawa. Tentu sangat tidak mungkin, karena ruangan UKM baru tersebut sangat sempit. Jikapun jadi dipindah, dikhawatirkan kegiatan perkuliahan dan kegiatan rutin UKM tidak akan berjalan lancar. Ada isu yang menyebutkan bahwa gamelan UKM akan digudangkan, dan proses perkuliahan akan menggunakan gamelan gedung I (auditorium). “Yang saya takutkan, dulu gamelan di audit pernah hilang, padahal ada satpam yang menjaga, bagaimana nanti jika digunakan untuk perkuliahan dan kegiatan yang setiap hari terbuka? Gamelan itu tidak murah!…”, tegas Mas Wahyu, salah satu sesepuh UKM Kesenian Jawa yang juga tinggal di UKM tersebut. Memang apa yang ditakutkan oleh Mas Wahyu cukup beralasan, pasalnya gamelan memang bukan barang murah dan membutuhkan perawatan yang rutin. Harga seperangkat gamelan dari bahan perunggu sekarang bisa mencapai harga 300 juta. Apakah hanya akan dibiarkan hilang dan terjamah oleh tangan-tangan usil yang tidak bertanggung jawab?, apakah hanya akan digudangkan dan menjadi barang rongsok yang tidak berguna?. Terlepas dari itu semua, gamelan mempunyai tugas besar yaitu menjaga kebudayaan dan tradisi orang Jawa. Jika generasi penerusnya saja sudah tidak peduli, bagaimana kebudayaan dan tradisi itu akan tetap ada?
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang
