09 Oktober 2008

Anak Semarang Malu Berbahasa Jawa?

Saat saya menginjakkan kaki pertama kali di Semarang untuk menimba ilmu, banyak teman-teman saya yang dalam bahasa kesehariannya berbahasa Indonesia. Sebagai seorang mahasiswa jurusan bahasa Jawa, sayapun sebisa mungkin nyauri menggunakan basa Jawa. Namun, ada seorang teman yang walaupun setiap kali saya ngobrol dengannya menggunakan bahasa Jawa, tapi dia tetap menjawab menggunakan bahasa Indonesia gaul. Padahal diapun mudheng apa yang saya ucapkan. Hal tersebut juga saya jumpai pada seorang adik kelas yang notabene asli Semarang. Walaupun telah memilih bahasa dan sastra Jawa sebagai program studinya, dia mengaku ‘belum bisa’ berbahasa Jawa karena malu. “Saya tu kalau ngomong Jawa pasti lucu mas, ntar pasti diketawain...”, jelasnya. Hal yang sama juga ditemui teman-teman saya yang melaksanakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), memang PPL tersebut dilaksanakan di SMP dan SMA di kota Semarang. Para siswa cenderung kesulitan dan ‘membandel’ saat diajak berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Ironis memang, disaat bahasa Jawa digalakkan mulai SD sampai SMA sebagai mata pelajaran, antusias dan respon siswa cenderung sangat berkurang. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia gaul (lu-gue), daripada bahasa nenek moyang yang kelangsungannya berada ditangan mereka. Rasa malu berbahasa Jawapun tampaknya sudah ditanamkan para orang tua mereka sejak kecil. Bagaimana tidak, sejak kecil orang tua telah menggunakan bahasa Indonesia dalam mendidik. Orang tua lebih bangga bila anaknya yang berumur 2 tahun bisa berbahasa Indonesia. Jika memang seperti itu potret generasi penerus bahasa Jawa, maka tinggal menghitung waktulah umur bahasa itu. Apalagi dalam bahasa Jawa terdapat tata krama dan unggah-ungguh yang sangat selaras dengan kehidupan manusia Jawa. Kecenderungan anak untuk tidak sopan dan menghormati orang yang lebih tua, berawal dari bahasanya. Anak jaman sekarang telah sampailah pada tataran yang sangat memprihatinkan. Basa krama yang digunakan untuk berbahasa kepada orang yang lebih tua, tak pernah dikenal oleh anak pada jaman sekarang. Ini adalah pekerjaan rumah untuk kita bersama. Mengutip tulisan dari Sucipto HP, bahwa bahasa Jawa adalah sebuah aset kultural yang harus kita lestarikan dan jaga bersama.

DHONI ZUSTIYANTORO

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar