09 Oktober 2008

UKM Kesenian Jawa, Kubawa Kemana?

UKM Kesenian Jawa yang bertempat di gedung B2 lantai 1 FBS Unnes, banyak menuai kontroversi. Perkuliahan jurusan bahasa Inggris dan Sendrtasik merasa terganggu dengan adanya kuliah karawitan jurusan bahasa Jawa. Suara gaduh gamelan dirasa menggangu proses perkuliahan. Diluar jam kuliahpun, UKM sering digunakan untuk latihan rutin anggota. Hingga kini, masalah tersebut belum mendapat solusi yang terbaik. Jika terpaksa memindah perangkat gamelan, tidak ada ruang yang memadai. Kabar terakhir menyebutkan bahwa semua UKM di Unnes akan dipindah ke gedung baru di dekat PKM Pusat, termasuk UKM Kesenian Jawa. Tentu sangat tidak mungkin, karena ruangan UKM baru tersebut sangat sempit. Jikapun jadi dipindah, dikhawatirkan kegiatan perkuliahan dan kegiatan rutin UKM tidak akan berjalan lancar. Ada isu yang menyebutkan bahwa gamelan UKM akan digudangkan, dan proses perkuliahan akan menggunakan gamelan gedung I (auditorium). “Yang saya takutkan, dulu gamelan di audit pernah hilang, padahal ada satpam yang menjaga, bagaimana nanti jika digunakan untuk perkuliahan dan kegiatan yang setiap hari terbuka? Gamelan itu tidak murah!…”, tegas Mas Wahyu, salah satu sesepuh UKM Kesenian Jawa yang juga tinggal di UKM tersebut. Memang apa yang ditakutkan oleh Mas Wahyu cukup beralasan, pasalnya gamelan memang bukan barang murah dan membutuhkan perawatan yang rutin. Harga seperangkat gamelan dari bahan perunggu sekarang bisa mencapai harga 300 juta. Apakah hanya akan dibiarkan hilang dan terjamah oleh tangan-tangan usil yang tidak bertanggung jawab?, apakah hanya akan digudangkan dan menjadi barang rongsok yang tidak berguna?. Terlepas dari itu semua, gamelan mempunyai tugas besar yaitu menjaga kebudayaan dan tradisi orang Jawa. Jika generasi penerusnya saja sudah tidak peduli, bagaimana kebudayaan dan tradisi itu akan tetap ada?

DHONI ZUSTIYANTORO

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar