Kreeekkk…. Jam 10 malam seorang satpam menutup pintu gerbang perempatan Unnes arah rektorat. Disitu juga terlihat beberapa satpam yang berjaga. Ais dari kampus akan pulang ke kos mengambil barang, takut karena ditanya dengan sedikit dibentak. “Darimana??!!”, tegas seorang satpam. “Dari kampus pak, ada kegiatan…”, jawab Ais yang setengah takut. “Di perempatan banyak satpam, aq takut gak brani blk. Tak tunggu di dpn BNI aja”, begitu sms Ais mengabarkan kepada saya. Memang di kampus sedang berlangsung kegiatan, dan akan diteruskan nonton bareng di TBRS (Taman Budaya Raden Saleh). Sayapun budhal bersama teman-teman yang masih di kampus untuk menuju TBRS. Benar apa yang dikabarkan Ais, beberapa satpam berjaga diperempatan bak polisi yang sedang melakukan operasi Satlantas. “Saya minta KTM cewek dan cowok”, pinta seorang satpam. Dengan setengah takut seorang teman cewek memberikan KTM-nya. “Besok ambil di rektorat!”, jelas satpam tersebut. Satpam yang lainpun memasang tampang yang sangat tidak bersahabat, mungkin lebih kaku dari polisi yang sedang operasi Satlantas. Seolah kami adalah para tersangka kriminalitas yang siap untuk dijatuhi hukuman. Apa yang dilakukan oleh satpam tadi?, melakukan razia mahasiswa mesum?, apa yang telah kami lakukan?, kami hanya berkegiatan di kampus!. Jika memang mahasiswa mesum yang dicari, kenapa mereka malah nyegat dan memintai KTM mahasiswa yang lewat?. Jangan salahkan mahasiswa jika mereka berpacaran di area taman, atau sepanjang jalan rektorat, karena mereka memang terfasisilitasi. Taman dan jalanan yang gelap, sepi, bahkan di beberapa tempat telah disediakan tempat duduk yang memadai. Hal-hal tersebut sangat berpotensi untuk menjadi MESUM AREA. Kalaulah satpam dan para petinggi Unnes hanya bisa mencari kesalahan tanpa menghilangkan akar permasalahan, apalah guna. Tengoklah sepanjang perempatan sampai arah rektorat, jalanan yang gelap, hanya beberapa penerangan dapat terhitung dengan jari. “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku, tapi juga karena ada kesempatan”, begitu kata Bang Napi.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa, FBS- Unnes Semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar