Mencintai kebudayaan tradisional agaknya lebih sulit daripada mencintai kebudayaan modern yang selalu datang tanpa henti. Hal ini sudah terbukti pada mahasiswa baru Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, mereka ‘kurang bisa menerima’ apa yang seharusnya menjadi tugas dan kewajiban sendiri. 18 September 2008 kemarin, mereka mendapat tugas mata kuliah budaya Jawa untuk menonton wayang kulit. Saya yakin, jika tidak ada absensi pada penugasan tersebut, bisa dihitung dengan jari mahasiswa yang benar-benar menonton. Sia-sia mereka begadang sampai menjelang sahur, uang yang mereka keluarkan untuk transport, jika memang sampai disana hanya menahan kantuk. “Ada yang lucu ya mas?”, celetuk seorang mahasiswi kepada saya, saat saya tertawa melihat salah satu adegan gara-gara. Sedangkan dia (mahasiswi itu-red) sedang menahan kantuk sambil sms-an dengan pacar. Begitu juga dengan mengikuti UKM Karawitan dan Panembrama, mahasiswa seakan ‘terpaksa’ mengikutinya karena akan menempuh mata kuliah karawitan dan tembang, selebihnya mereka hanya ikut-ikutan teman. Memang 90% anggota UKM itu adalah mahasiswa bahasa Jawa. Itu adalah potret nyata dari penerus dan pelestari budaya Jawa. Kebudayaan tradisional (Jawa) yang seharusnya mereka junjung tinggi, belum mereka anggap sebagai sebuah hal penting. Kebudayaan modern dan sok kota masih menjadi nomer satu. Mereka malu jika berbau ketradisionalan. Kalau bukan kita, siapa? Apakah harus menunggu sampai kebudayaan tradisional (Jawa) ini tergerus oleh budaya bangsa landa?. Bangunlah!!!.
DHONI ZUSTIYANTORO
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Jawa-FBS Unnes Semarang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar